Sabtu, 28 November 2015

The Way I Loose Her: Gue Salah Apa, Kak?!




Kelak aku akan mengingat tempat ini sebagai tempat di mana mentari menyinari bumi persada. Sebagai tempat di mana aku menemukan kamu ketika aku sedang bergelut dengan waktu.
 
WHAT THE FUCK?!
Ini adalah penolakan dengan durasi paling cepat selama perjalanan hidup gue. Gimana enggak? Baru juga ngomong Waqof alias satu tarikan nafas, e udah disuruh untuk menjauh aja. Dikira muka gue wajik basi apa pake acara dijauhin segala. Hih..
Gue yg saat itu masih tertegun tak percaya, berusaha bertanya sekali lagi. Berharap apa yg gue dengar barusan adalah sebuah kesalahpahaman kinerja kuping gue. 
"Ah mungkin kuping gue yg salah denger kali. Maklum aja tadi pagi pas mandi lupa belum pake cottonbud." Gue berusaha menghibur diri sendiri.
"Ngg.. sorry, tadi nggak kedengeran. Namanya siapa ya?" 
Gue bertanya sekali lagi. Tapi kali ini gue berusaha lebih fokus dalam mendengarkan, berharap apa yg akan ia ucapkan selanjutnya adalah sebuah nama dari seorang bidadari yg tak punya sayap.
.
"Kan udah aku bilang, nggak usah deket-deket. Punya kuping nggak sih?"Katanya sembari melirik sinis kearah gue.
Astagfirullah!!
Astajim!!
Atapiluloh!!
Gue salah apaaaa?!
Nggak berhenti-berhentinya gue mengucapkan kalimat meminta ampun kepada Tuhan dengan segala macam bahasa, berharap gue mengetahui alasan apa yg Tuhan maksudkan sehingga mahluk manis kaya begini kata-katanya bisa sangat merajam hati.
Tangan gue masih menjulur kaya belalai gajah. Gue terpaku, terdiam, keringet pun mulai mengalir dari dahi sama hidung, Jakun gue nggak berhenti naik turun kaya wahana Histeria gara-gara menelan ludah tak percaya.
Perlahan-lahan gue urungkan niat gue untuk kenalan, gue tarik kembali tangan gue dan mulai melihat kearah diri gue sendiri. Gue penasaran, apa jangan-jangan ada hal aneh yg melekat pada tubuh gue ini ya? Apa tubuh gue bau? 
Gue mencoba mencium aroma ketek kanan dan ketek kiri, tapi nggak ada masalah. Dua-duanya masih wangi melati. Mirip wangi teh kotak. Gue melihat kearah celana, tapi resleting gue masih tertutup rapih dan tidak mengeluarkan sulurnya.
Apa jangan-jangan ada yg aneh sama muka gue ya?
Atau jangan-jangan nih cewek alergi sama cowok ganteng? Pffft tapi kalau memang begitu harusnya doi nggak nolak gue dong, toh gue nggak ganteng juga..
Mendadak ketika gue mengeluarkan statement di atas, gue menjadi drop. Gue shock. Gue kehilangan semangat hidup. Baru kali ini secara tidak sadar gue mengeluarkan statement yg paling menyakitkan kepada diri gue sendiri. 
Gue terkulai lemas, tertohok oleh ucapan hati kecil gue sendiri. Kalau ini di rumah gue, gue pasti udah berlari kearah kamar mandi dan menyalakan shower. Berharap ini semua hanya mimpi.
Gue tertunduk lesu pagi itu.
.
Lagi asik-asiknya bengong karena kehilangan semangat hidup ini, tiba-tiba gue kembali tersadar ketika tas ransel seseorang dari belakang gue secara tidak sengaja menyentuh kaki bagian belakang gue.
Dengan sigap gue langsung menengok kearah belakang, berharap di belakang gue ini adalah sesosok bidadari cantik yg tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Tapi tampaknya pagi ini Tuhan sedang senang bercanda, gue yg baru shock berat ini mendadak kembali dikejutkan bukan main ketika menemukan seonggok orang yg mukanya nggak lebih jelek dari batu akik. Hitam dan penuh bercak.
Busyet!
Ternyata apa yg gue alamin pagi ini belum seberapa jika dibandingkan dengan apa yg anak ini alamain sepanjang hidupnya. Gue heran, apa yg membuat ini anak bisa bertahan hidup sampe jaman SMA dengan muka seperti ini ya? apa mungkin di rumahnya nggak ada kaca?
Iseng punya iseng gue liat kearah papan namanya.
"Nurhadi"
.
Anjrit!!
Ngakak setaaaaan!!
Wajah serem plus jelek kaya gini namanya Nurhadi. Apa jangan-jangan nih anak dipanggilnya “Nur” lagi? Bhahahahahahk nggak cocok banget sama mukanya. Muka mirip kertas semen gitu masa dipanggil NUR.
Girly amat..
.
"Halo.."
Mendadak si NURHADI ini menyapa gue.
"Eh iya bro halo juga, siapa nih namanya?" Kata gue menjulurkan tangan sembari menahan rasa ingin ketawa.
"oh iya, nama gue Nurhadi, panggil aja Adi" jawabnya mantap
hooo… dipanggilnya Adi toh. Bagus deh, coba aja dia bilang Nur, pasti gue bakal langsung ketawa terpingkal-pingkal.
"Gue Dimas, panggil aja Dimas"  Jawab gue sembari bersalaman mantap.
"Btw, dari SMP mana, Di?" tanya gue lagi
"Dari SMP 45. Gue masuk lewat jalur atlet bro."
"Atlet apaan emang? Karambol?" Tanya gue penasaran.
"Bukan, atlet basket gue.."
Haaaa pantes aja nih anak wajahnya kaya warna aspal. Keseringan dipanasin di lapang basket sih..
.
                                                                  ====
.
Pagi itu matahari semakin tinggi menjunjung di angkasa.
Membuat lapangan basket tempat gue berbaris ini semakin dipenuhi oleh banyaknya anak dengan atribut putih biru lengkap. Dan tololnya, sampe detik ini pun gue masih belum merasakan ada yg ganjil pada diri gue pagi itu.
Kiri-kanan gue mulai dipenuhi oleh anak SMP dengan segala macam aroma khasnya masing-masing. Harapan gue untuk dikelilingi oleh cewek cantik ketika baris-berbaris pun ternyata sirna. Belakang gue ada cowok hitam tinggi dengan nama depan yg unyu. Kanan gue ada cowok sipit putih tapi wajahnya minta dipukul banget. Kiri gue cewek tembem dan manis luar biasa, tapi juteknya minta ampun.
Hari pertama gue menginjakkan kaki di SMA ini ternyata penuh dengan kejutan. Kejutan tidak mengenakkan.
Setelah menunjukkan pukul 09.00 tepat, bel sekolah gue mulai membunyikan sebuah irama yg gue tau itu adalah irama yg sering tukang burger pake kalau lagi mau menarik pelanggan. Bunyi bel ini menandakan bahwa upacara penerimaan murid baru telah dimulai.
Dengan serentak anak-anak SMP mulai berbaris dengan format 4-4-2. Semuanya rapih dan bersikap sempurna. Kakak-kakak panitia dengan warna pita berbeda-beda mulail berhamburan dari arah gerbang kantin yg terhubung langsung dengan lapangan basket. 
Dengan penuh ceria mereka keluar dan berbaris lurus 10 meter di depan gue. Dengan cepat mata gue langsung menangkap dan mengkalkulasi seberapa banyak panitia cantik yg bakal menjadi penghibur gue selama masa Orientasi Siswa ini.
Dan nggak luput juga gue melihat kakak ngondek dengan pita oren itu. Ntah kenapa melihat doi, hati gue jadi berbunga-bunga. Rasa-rasanya deh pengen nyubit pipinya. Pake tang.
Setelah para panitia unyu ini cukup berbaris rapih, muncullah seorang bapak-bapak lengkap dengan atribut kumis hitamnya menjuntai di bawah hidung. Gue penasaran, itu kumis atau akar gigi? panjang amat.
Bapak yg mengenakan baju khas PNS ini berjalan menuju mimbar kecil yg telah disediakan oleh panitia tepat di sebelah tiang bendera. Beliau berdiri gagah menatap kita semua. Sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di mic dengan dalil mengecek apakah mic sudah terhubung dengan pelantang suara atau belum, akhirnya Bapak ini angkat bicara.
.
"Selamat datang Siswa dan siswi baru SMA NEGERI XXXX Kota Bandung!!"Katanya dengan lantang.
Secara serentak, seluruh panitia, para murid di dalam kelas yg menghadap kearah lapang basket, dan seluruh murid yg menonton di lapangan mulai bertepuk tangan dengan ramai. Inilah yg gue suka dari SMA gue ini, solidaritasnya kuat. Ketika nama SMA ini diucapkan dengan lantang, secara serentak seluruh murid dan penghuni SMA ini bertepuk tangan penuh gembira.
Melihat hal ini, tanpa tersadar muncul senyum kecil di mulut gue. Ada rasa haru dan bangga karena gue bisa menjejakkan kaki di sini. Apakah rasa ini yg kakak gue rasakan waktu dia dulu berdiri di tempat gue sekarang ini ya? Bersamaan dengan tepukan tangan yg sangat meriah ini, gue bertekad, bahwa ketika gue sudah menjadi ‘seseorang’ di masa depan nanti, SMA ini adalah tempat yg paling pertama akan gue perkenalkan sebagai tempat lahirnya seorang Dimas pada hari itu.
.
"Selamat hadir dan resmi menjadi siswa-siswi terbaik. Tak bisa Bapak pungkiri, mungkin sekolah ini menjadi sekolah pilihan kedua dari beberapa orang di antara kalian. Tapi itu tak apa, Bapak hanya berpesan jadikan sekolah ini satu-satunya tempat di mana kalian kelak akan bercerita dengan bangga ketika sudah sukses di masa depan!" Ucap Bapak berkumis lebat.
Seketika itu juga kembali seluruh penghuni SMA beserta para murid baru bertepuk tangan dan bersaut-sauttan. Gue pun ikut turut andil dalam hal ini, gue mulai memasukan jari ke dalam bibir dan membuat siulan keras. Orang yg bernama Nurhadi di belakang gue ini jingkrak-jingkrak, makin mirip sama gorila. Kakak-kakak panitia mulai bertepuk tangan sembari menyalakan convetti. Kakak-kakak senior di dalam kelas mulai memukul-mukul meja dengan penggaris. Bahkan gue melihat ada yg mengacung-acungkan kursi kayu di balik jendela.
Gue merasa sedang ada di kebun binatang.
.
"Di depan kalian ini, adalah kakak-kakan senior kalian yg akan membimbing kalian untuk mengetahui seluk beluk sekolah ini selama beberapa hari ke depan. Sambutlah mereka, sebagaimana mereka menyambut kalian di sekolah tercinta kita. Maka sebelum Bapak menutup kalimat pertemuan pertama kita hari ini, Bapak ingin kembali mengucapkan selamat datang kepada kalian para murid baru. Selamat datang, warga baru SMA Negeri XXXXXXX Kota Bandung"
Kembali sekali lagi gue mendengarkan gegap-gempita hampir di seluruh penjuru lapangan basket, menyambut dan mengiringi turunnya Bapak— yg ternyata gue baru sadar bahwa beliau ini kepala sekolah— dari mimbar dan pergi sembari melambaikan tangan.
Anak-anak baru pun kembali riuh. Anak SMP yg badannya mirip anak kuliahan yg berdiri di belakang gue ini tidak henti-hentinya menepuk-nepuk pundak gue. Gila, sakit amat tepukannya. Emang dasar keturunan gorila. Sedangkan cewek manis di sebelah gue cuma tersenyum sambil tepuk tangan.
Amboi… sunggu pemandangan Surga dan Neraka jika dibandingkan dengan mahluk astral di belakang gue. Ini cewek cocok kalau di sebut dengan panggilan NUR alias cahaya. Sedangkan cowok gue ini nggak cocok disebut cahaya, cocoknya disebut cahludih.
.
                                                      ====
.
Acara kembali dilaksanakan dengan tertib.
Setelah mimbar kosong karena ditinggalkan kepala sekolah, kini ada seorang kakak senior yg berjalan dan menaiki mimbar kayu yg sederhana itu. Dia memegang mic dengan gagah, dan mulai berbicara.
"Selamat pagi anak SMA baru!!" ucapnya lantang.
"PAGI KAK!!!" Serentak seluruh anak baru mengucapkan hal yg sama.
"Perkenalkan, nama saya Dodi. Saya dari kelas 3 Ipa 1. Dan saya adalah ketua OSIS sekaligus ketua untuk Masa Orientasi Siswa angakatan tahun ini. Sebelum kita melanjutkan jalannya acara hari pertama penerimaan siswa baru, saya akan memperkenalkan kakak-kakak unyu nan manis ini yg ada di depan kalian."
Kakak senior yg bernama Dodi ini turun dari mimbar kemudian menghampiri kakak-kakak panitia lain yg sudah berbaris satu-satu secara garis lurus ini. Sembari menyodorkan mic, kak Dodi mempersilahkan teman-temannya berkenalan satu-persatu.
Gue nggak terlalu ingat siapa saja panitia yg ada pada hari itu, tapi yg masih gue inget sampe sekarang adalah nama-nama panitia cewek yg emang cakepnya luar biasa. Ini nih yg gue suka dari ospek, ospek itu identik dengan kakak cowok ganteng dan kakak cewek cantik. Karena gue tau, sebelum ospek ini dilaksanakan, pasti para anggota OSIS mengadakan audisi untuk mencari panitia. Dan yg gue tau, syarat utama untuk menjadi panitia itu haruslah MENARIK!!
.
Akhirnya setelah kak Dodi memperkenalkan secara satu persatu, dia kembali berjalan ke atas mimbar dan kembali membuka acara.
"Untuk membagi kalian ke dalam kelompok, maka kakak-kakak panitia di depan saya ini akan memberikan kalian sebuah kotak berisi pita berwarna. Setelah menarik undian itu, kalian harus langsung berkumpul dengan kakak panitia yg mengenakan pita berwarna sama. Mengerti?!"
"MENGERTI KAK!"
"Oke, silahkan kakak-kakak panitia.."
Tidak perlu waktu lama, tragedi rusuh dan rebutan pita pun terjadi. Gue udah kaya lagi nonton konser Metallica. Orang-orang mulai rusuh sambil seruduk-seruduk nggak tau aturan. Gue pun mengalami hal yg sama. Melihat kejadian kaya gini sontak gue langsung mencari cewek cantik tembem yg sempat berdiri di sebelah gue itu.
Dan ternyata dugaan gue benar, dia terhimpit sembari menutupi dadanya. Gue yg melihat hal ini langsung menghampirinya. Nggak segan-segan gue menarik kerah anak-anak SMP nggak tau diri ini yg ada di sekitar dia. Ketika sudah sampai di depannya, gue peggang bahunya.
"Kamu gakpapa kan?" jawab gue so-so pasang muka cool kaya kulkas.
Melihat hal ini, dia hanya diam saja menatap gue. Dan gue pun nggak terlalu bisa fokus melihat kearah pipi kenyalnya itu. Karena mau tidak mau gue harus fokus menahan dorongan orang-orang yg lagi rusuh kaya lagi antri sembako.
Sumpah, gue nggak habis pikir kenapa panitia cuma menyediakan satu buah kotak undian saja. Apa mereka nggak tau bakal terjadi hal seperti ini? Tapi gakpapa deh, dengan ini gue jadi bisa pegang-pegang neng cantik nan tembem ini. Dan gue rasa dia pun nggak masalah gue perlakukan seperti ini, melihat keadaan kita yg memang tidak memungkinkan untuk berdiri secara tenang.
Lagi fokus menahan gempuran layaknya Beyblade, gue melihat kotak undian yg sedang diperebutkan itu mampir di dekat gue. Gue mencoba meraihnya tapi tetap tidak berhasil, setiap mau meraihnya, tangan gue selalu terhimpit oleh anak-anak yg lain. Gue kesakitan mencoba menarik tangan gue yg tertekuk karena banyaknya orang di sebelah gue. 
Ntah ada angin apa, kemudian mendadak gue mendengar secercah harapan dari Tuhan.
"OI MINGGIR OI!! JANGAN RUSUH SETAN!!" 
Gila, Tuhan nggak mungkin ngeluarin kalimat seperti ini. Gue mencoba untuk bisa melihat darimana asal bunyi suara itu. 
Dan nggak disangka-sangka. Ternyata itu NURHADI!!
Ya!! Nurhadi yg berbadan tinggi, besar, dan hitam layaknya genderuwo ini dengan gagah menarik kerah semua anak yg menghimpit tangan gue.
Bagi tubuhnya yg super besar dan tinggi itu, nggak sulit bagi dirinya untuk menghempaskan anak-anak yg ada di sekitarnya.
Sontak semua murid disekitarnya menjadi tenang setelah mendengar suara dan tarikan tangannya. 
"ULAH RARUSUH ANJING!! Batur aing sia dedet jiga kieu, beul!" Jawabnya dengan logat khas orang sunda kasar.
Semuanya menjadi hening. Anak-anak yg tadi rusuh mendadak seperti anak kucing baru lahir. Melihat hal ini, pandangan gue terhadap Nurhadi menjadi berbalik 180 derajat. Gue sekarang melihat dia selayaknya pangeran tampan dari negeri orang hitam. Mendadak gue seperti melihat cahaya. Dan dengan ini gue semakin yakin bahwa nama NUR di depan namanya itu ternyata bukanlah sebuah hiasan belaka..
gue kagum..
Tepuk tangan…
.
                                                    ===
.
Setelah keadaan cukup hening, Nurhadi merebut kotak yg sempat menjadi rebutan itu dan menyodorkannya kearah gue. 
"Ambil bro" ucapnya
"Anjir, thanks banget bro! lo pahlawan gue!" jawab gue gembira
"Hahaha santai"
Setelah menepuk bahunya, gue kemudian memasukan tangan gue ke dalam kotak berisi pita berwarna itu. Gue genggam pita yg ada di dalamnya, dan gue tarik tangan gue tanpa mau membuka genggaman pita itu.
"Warna apa?" 
Mendadak cewek yg tadi sempat gue pegangin pundaknya ini bertanya kearah gue. Gue kaget, tumben nih anak jadi baik. 
"Kamu ambil dulu gih, setelah itu buka bareng. Siapa tau warnanya sama"Jawab gue sambil menyodorkan kotak undian tersebut.
Dia pun nurut tanpa menolak dan memasukan tangannya. Dia genggam pita tersebut lalu menariknya tanpa mau membuka genggaman tangannya. 
"Nah, kita buka sama-sama ya."
"iya" 
"Eh bentar. Oi Di, sini lu juga. Bareng-bareng, siapa tau kita sekelompok" Gue memanggil Nurhadi.
"Oke deh, kebetulan gue juga belum ngambil. Pas udah gue ambil, kita buka bareng-bareng ya" Ucap Nurhadi sembari memasukkan tangannya ke dalam kotak.
Setelah yakin mendapatkan pita. Kemudian kita berkumpul bertiga mengacungkan tangan kanan kearah depan.
"Oke, kita buka ya.."
"Sip"
"1… 2… 3"
Dengan serentak kita bertiga membuka genggaman kita masing-masing. 
Gue mendapatkan pita berwarna oren.
Nurhadi mendapatkan pita berwarna merah.
Cewek tembem mendapatkan pita berwarna oren.
.
"Yaaaah kita gak sekelompok bro.. hahaha" ucap Nurhadi.
"yah sial banget, sorry ya Di" Jawab gue
"Gakpapa kok bro santai aja, yaudah gue caw cari kelompok gue dulu yak" 
"Oke-oke. Btw thanks ya Di udah nolongin gue tadi"
"Santai bro.." Jawabnya seraya pergi meninggalkan kita berdua.
Gue heran, udah berapa banyak kata-kata "santai bro" yg dia ucapkan dari semenjak pertama kali ketemu gue tadi ya. Apa kaga ada kosa kata yg lain apa?
"Hei, kita sekelompok. Ayo cari kakak panitianya. Tapi tetep jangan deket-deket aku ya"
Mendadak lamunan gue terbuyar karena ucapannya. Buset, kenapa dia jadi jutek lagi sama gue?! ini gue salah apa sih astagaaa… Dan dengan enaknya dia pergi begitu aja tanpa nungguin gue. Bener-bener deh, cewek cantik mah bebas mau ngapain aja ya..
Gue mengikutinya dari belakang, mencoba ikut mencari kakak panitia yg menggunakan pita oren. Dan kalau gue nggak salah inget, kakak yg menggunakan pita oren adalah kakak panitia favorite gue. Si kakak kemayu.
Dan ya! Tebakan gue tepat.
Kakak pembimbing kelompok gue adalah kakak cowok imut nan kemayu itu. Melihat hal ini gue bahagia setengah mati. Cita-cita gue tercapai, walaupun nggak berteman, setidaknya gue punya kenalan cowok ngondek. Stabilitas pertemanan gue dengan cewek di masa depan bakal terjamin nih. Mantap!
Tidak butuh waktu lama buat gue dan cewek tembem jutek ini untuk berkenalan dengan kakak panitia tersebut. Kita akrab dalam hitungan menit. Kita disuruh menunggu teman-teman yg lain yg mendapatkan pita berwarna oren juga.
Setelah semua terkumpul menjadi satu. Maka kini giliran kakak Dodi selaku ketua Osis kembali berbicara.
.
"Oke, karena semuanya telah berkelompok. Sekarang kalian kembali ke barisan kalian seperti awal tadi yaa." pintanya. 
Kami pun berbaris kembali.
"Oke, sekarang izinkan saya memperkenalkan kakak-kakak panitia yg lain. Oke para panitia pembimbing dan panitia yg lain, harap beridiri di belakang saya."
Para pantia kini berdiri di belakang kakak ketua osis.
"Seperti yg saya ucapkan tadi, izinkan saya memperkenalkan kakak-kakak panitia keamanan. Silahkan.."
.
BRAK!!
Mendadak pintu kantin dibuka dengan kasar. Dari sana keluar secara berurut para kakak-kakak keamanan lengkap dengan pita hitam di tangan kiri mereka. 
Wajahnya seram. Aura kegelapan mendadak menyelimuti seluruh kawasan lapangan basket. Anak-anak baru mendadak terhening semua. 
Ada yg wajahnya minta di pukul. Ada yg wajahnya minta di tonjok. Ada yg wajahnya kampungan. Ada yg wajahnya jutek abis. Ada yg pake kerudung tapi wajahnya kaya pemeran istri Haji Muhidin. Dan masih banyak lagi.
Mereka kini berjajar berbaris memanjang rapih di depan kakak osis. Dan yg terakhir, muncullah seorang kakak laki-laki dari kantin dengan wajah paling menjengkelkan. Dia berjalan dengan tangan masuk di dalam saku. Melihat kearah kita satu persatu.
Dia tidak ikut baris seperti kakak-kakak keamanan yg lain. Yg ini berani tampil beda. Dia berjalan menatap satu-persatu mata anak-anak murid baru yg berdiri di barisan paling depan.
Sontak banyak yg menggigil karena harus berhadapan dengan kakak yg seramnya minta ampun ini. Nggak terkecuali gue. Gue pun mendadak keringet dingin ketika dia melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Setelah selesai berjalan dengan brengseknya. Kakak ini mendatangi kakak ketua osis. Dia berdiri meminta mic yg sedang di pegang kakak ketua osis.
Dia melihat kearah kita semua.
.
"Selamat pagi!" ucapnya keras.
"SELAMAT PAGI KAK!"
"KURANG KERAS!! SELAMAT PAGI!!!"
"SELAMAT PAGI KAAAAK!!!!"
"Perkenalkan, kami dari divisi tata tertib atau tatib. Kami yg akan mengajarkan kedisiplinan kepada kalian semua. Sebelum itu saya harap kalian mengenal kami semua. Saya akan memperkenalkan satu persatu anggota saya"
Kemudian para panitia kemanan memperkenalkan diri mereka satu-persatu. Setelah itu, mic pun kembali ke pegangan kakak brengsek yg satu itu.
"Saya sendiri adalah Roni! Kelas 3 IPS 1. Saya ketua keamanan Di sini. Sebelum acara dimulai, kami akan melakukan sidak kedisiplinan kepada kalian terlebih dahulu. Para kakak keamanan, saya persilahkan" Ucapnya tegas.
.
Setelah mendengar perintah seperti itu, kini semua panitia keamanan berpencar memasuki setiap barisan dari para anak baru. Melihat secara utuh satu persatu. Mereka mencari kesalahan yg kita perbuat di hari pertama.
Tapi pandangan gue nggak berhenti di situ saja, gue melihat kakak Roni ini memanggil 3 anak keamanan yg wajahnya serem abis untuk berkumpul di dekatnya.
Sambil berbicara, kak Roni ini menunjuk kearah gue. Sontak ketiga anak kemanan itu pun melihat kearah gue. Sambil melihat kearah gue, mereka mendengarkan apa yg kak Roni bicarakan.
Anjrit!
Gue salah apa ini?!
Please jangan gue, jangan gue!!
Gue menggigil karena gugup. Berharap yg kak Roni tunjuk itu bukanlah gue. Melainkan anak songong di sebelah kanan gue ini. Tapi mendadak setelah ka Roni selesai berbicara, 3 kakak keamanan ini mendatangi gue dengan langkah kaki yg cepat.
ANJRIT!!
MATI GUE!!!.
.
"Kan, udah aku bilang kan, kamu jangan deket-deket aku" bisik cewek tembem di sebelah kiri gue itu.
HAH?!
EMANG GUE SALAH APA SIH?!?!
.
.
.
.
                                                      Bersambung


Tidak ada komentar:

Posting Komentar