Selasa, 28 Maret 2017

to everyone after me


Kepada semua laki-laki yang aku berani bersumpah cintanya tak akan pernah bisa lebih besar ketimbang cintaku kepada wanita itu,

Bolehkah aku meminta tolong?
Aku titipkan wanitaku yang kini tengah menjadi wanitamu. Aku mengenalnya jauh sebelum kau bisa merasa bahagia ketika pertama kali melihat senyumnya. Aku mengenalnya bukan baru kemarin sore.

Aku mengenalnya ketika ia masih bukan siapa-siapa, ketika ia tak lebih dari sekedar caci-maki setiap orang yang mendengar berita miring tentangnya. Aku tak bisa bicara banyak-banyak, karena mungkin kini kau sudah jauh lebih mengenalnya ketimbang aku. Bagaimana? Berdegup kencangkah hatimu ketika melihatnya tersenyum? Ya, aku juga dulu pernah merasakan hal yang sama.

Begini, aku ingin meminta tolong padamu,

Aku mohon. Walaupun sebenci-bencinya aku karena alasan dia pergi meninggalkanku dulu, aku mohon jangan rusak dirinya. Jangan ambil mahkotanya. Sehancur apapun aku pernah ditinggalkannya, aku mohon jangan kau hancurkan masa depannya. Jika kau memang benar-benar cinta dia, aku yakin kau pasti tak ingin merusaknya– Sama seperti yang aku lakukan dulu waktu aku masih punya waktu bersamanya.

Jagalah dia.
Sebagaimana aku dulu yang berani menantang seluruh dunia ketika mereka mencoba merendahkannya..

berhentilah sejenak



Apa yang kau cari dari setiap perjalanan yang kau jejaki? Gunung-gunung tinggi, pantai-pantai landai, dan seluruh tapak langkah kaki dalam sendiri.

Apakah kamu mencari dirimu sendiri? Apakah kamu mencari arti dari hidup yang begitu sepi? Apakah kamu mencari penggenap kekosongan dalam hati yang begitu ingin kau isi? Apakah kamu sekedar melarikan diri?

Aku tidak pernah melihatmu berhenti, meski aku tahu kau menikmati. Setiap pagi aku hanya melihat kelelahan masih tertinggal dalam tatapanmu. Bukan lagi binar mata seperti ketika kau jatuh cinta. Tidak lagi ada rerangkai kata-kata manis yang membuatmu terbang ke angan. Kehancuranmu yang berkeping pada kali kesekian membuatmu terus saja melangkah maju, namun tanpa tanda-tanda kesadaran diri tentang apa-apa yang seharusnya dijaga dan diperbaiki.

Sejenak, berhentilah.
Jangan terus berlari mengejar matahari. Jangan terus memburu waktu terbit dan terbenam matahari. Jangan terus pergi setiap kali matahari mulai tinggi.

Sejenak, berhentilah.
Tulis lagi setiap perjalanan agar segala beban emosi dapat terbagi. Istirahatkan raga dari seluruh paksaan pikiran dan pertanggungjawaban.

Hanya saja, tetap bukan aku yang mengertimu. Tetap hanya dirimu sendiri yang tahu segalamu. Maka, jika kamu terus ingin pergi, entah untuk mencari atau melarikan diri, jangan pernah melupakan segala persiapan untuk seluruh perjalanan.

Aku telah merelakannya. Kau menatapku tanpa tau sama sekali bahwa aku begitu mencintaimu. Biarlah, semoga kau tidak baru menyadari rasaku ini ketika aku sudah bisa mencintai orang yang baru.


Aku yang salah. Seharusnya tak kubiarkan perasaan ini berlama-lama. Aku tau kau tidak mencintaiku, aku tau kau bukan milikku, tapi aku harus bagaimana? Berhenti tak semudah yang mereka bicarakan.


Semoga kau selalu dijaganya baik. Hingga tak ada lagi kabar bahwa kau sedang mengerami luka sendirian yang membuatku khawatir dan ingin menyembuhkanmu sekali lagi.