Kelak
aku akan mengingat tempat ini sebagai tempat di mana mentari menyinari bumi
persada. Sebagai tempat di mana aku menemukan kamu ketika aku sedang bergelut
dengan waktu.
WHAT
THE FUCK?!
Ini
adalah penolakan dengan durasi paling cepat selama perjalanan hidup gue. Gimana
enggak? Baru juga ngomong Waqof alias satu tarikan nafas, e
udah disuruh untuk menjauh aja. Dikira muka gue wajik basi apa pake acara
dijauhin segala. Hih..
Gue
yg saat itu masih tertegun tak percaya, berusaha bertanya sekali lagi. Berharap
apa yg gue dengar barusan adalah sebuah kesalahpahaman kinerja kuping
gue.
"Ah
mungkin kuping gue yg salah denger kali. Maklum aja tadi pagi pas mandi lupa
belum pake cottonbud." Gue berusaha menghibur diri sendiri.
"Ngg..
sorry, tadi nggak kedengeran. Namanya siapa ya?"
Gue
bertanya sekali lagi. Tapi kali ini gue berusaha lebih fokus dalam
mendengarkan, berharap apa yg akan ia ucapkan selanjutnya adalah sebuah nama
dari seorang bidadari yg tak punya sayap.
.
"Kan
udah aku bilang, nggak usah deket-deket. Punya kuping nggak sih?"Katanya sembari
melirik sinis kearah gue.
Astagfirullah!!
Astajim!!
Atapiluloh!!
Gue salah apaaaa?!
Nggak
berhenti-berhentinya gue mengucapkan kalimat meminta ampun kepada Tuhan dengan
segala macam bahasa, berharap gue mengetahui alasan apa yg Tuhan maksudkan
sehingga mahluk manis kaya begini kata-katanya bisa sangat merajam hati.
Tangan
gue masih menjulur kaya belalai gajah. Gue terpaku, terdiam, keringet pun
mulai mengalir dari dahi sama hidung, Jakun gue nggak berhenti naik turun kaya
wahana Histeria gara-gara menelan ludah tak percaya.
Perlahan-lahan
gue urungkan niat gue untuk kenalan, gue tarik kembali tangan gue dan mulai
melihat kearah diri gue sendiri. Gue penasaran, apa jangan-jangan ada hal aneh
yg melekat pada tubuh gue ini ya? Apa tubuh gue bau?
Gue
mencoba mencium aroma ketek kanan dan ketek kiri, tapi nggak ada masalah.
Dua-duanya masih wangi melati. Mirip wangi teh kotak. Gue melihat kearah
celana, tapi resleting gue masih tertutup rapih dan tidak mengeluarkan sulurnya.
Apa
jangan-jangan ada yg aneh sama muka gue ya?
Atau jangan-jangan nih cewek alergi sama cowok ganteng? Pffft tapi kalau memang
begitu harusnya doi nggak nolak gue dong, toh gue nggak ganteng juga..
Mendadak
ketika gue mengeluarkan statement di atas, gue menjadi drop. Gue shock. Gue
kehilangan semangat hidup. Baru kali ini secara tidak sadar gue mengeluarkan
statement yg paling menyakitkan kepada diri gue sendiri.
Gue
terkulai lemas, tertohok oleh ucapan hati kecil gue sendiri. Kalau ini di rumah
gue, gue pasti udah berlari kearah kamar mandi dan menyalakan shower. Berharap
ini semua hanya mimpi.
Gue
tertunduk lesu pagi itu.
.
Lagi
asik-asiknya bengong karena kehilangan semangat hidup ini, tiba-tiba gue
kembali tersadar ketika tas ransel seseorang dari belakang gue secara tidak
sengaja menyentuh kaki bagian belakang gue.
Dengan
sigap gue langsung menengok kearah belakang, berharap di belakang gue ini
adalah sesosok bidadari cantik yg tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Tapi
tampaknya pagi ini Tuhan sedang senang bercanda, gue yg baru shock berat ini
mendadak kembali dikejutkan bukan main ketika menemukan seonggok orang yg
mukanya nggak lebih jelek dari batu akik. Hitam dan penuh bercak.
Busyet!
Ternyata apa yg gue alamin pagi ini belum seberapa jika dibandingkan dengan apa
yg anak ini alamain sepanjang hidupnya. Gue heran, apa yg membuat ini anak bisa
bertahan hidup sampe jaman SMA dengan muka seperti ini ya? apa mungkin di
rumahnya nggak ada kaca?
Iseng
punya iseng gue liat kearah papan namanya.
"Nurhadi"
.
Anjrit!!
Ngakak setaaaaan!!
Wajah serem plus jelek kaya gini namanya Nurhadi. Apa jangan-jangan nih anak
dipanggilnya “Nur” lagi? Bhahahahahahk nggak cocok banget sama
mukanya. Muka mirip kertas semen gitu masa dipanggil NUR.
Girly amat..
.
"Halo.."
Mendadak
si NURHADI ini menyapa gue.
"Eh
iya bro halo juga, siapa nih namanya?" Kata gue menjulurkan tangan
sembari menahan rasa ingin ketawa.
"oh
iya, nama gue Nurhadi, panggil aja Adi" jawabnya mantap
hooo…
dipanggilnya Adi toh. Bagus deh, coba aja dia bilang Nur, pasti gue bakal
langsung ketawa terpingkal-pingkal.
"Gue
Dimas, panggil aja Dimas" Jawab gue sembari bersalaman
mantap.
"Btw,
dari SMP mana, Di?" tanya gue lagi
"Dari
SMP 45. Gue masuk lewat jalur atlet bro."
"Atlet
apaan emang? Karambol?" Tanya gue penasaran.
"Bukan,
atlet basket gue.."
Haaaa
pantes aja nih anak wajahnya kaya warna aspal. Keseringan dipanasin di lapang
basket sih..
.
====
.
Pagi
itu matahari semakin tinggi menjunjung di angkasa.
Membuat lapangan basket tempat gue berbaris ini semakin dipenuhi oleh banyaknya
anak dengan atribut putih biru lengkap. Dan tololnya, sampe detik ini pun gue
masih belum merasakan ada yg ganjil pada diri gue pagi itu.
Kiri-kanan
gue mulai dipenuhi oleh anak SMP dengan segala macam aroma khasnya
masing-masing. Harapan gue untuk dikelilingi oleh cewek cantik ketika
baris-berbaris pun ternyata sirna. Belakang gue ada cowok hitam tinggi dengan
nama depan yg unyu. Kanan gue ada cowok sipit putih tapi wajahnya minta dipukul
banget. Kiri gue cewek tembem dan manis luar biasa, tapi juteknya minta ampun.
Hari
pertama gue menginjakkan kaki di SMA ini ternyata penuh dengan kejutan. Kejutan
tidak mengenakkan.
Setelah
menunjukkan pukul 09.00 tepat, bel sekolah gue mulai membunyikan sebuah irama
yg gue tau itu adalah irama yg sering tukang burger pake kalau lagi mau menarik
pelanggan. Bunyi bel ini menandakan bahwa upacara penerimaan murid baru telah
dimulai.
Dengan
serentak anak-anak SMP mulai berbaris dengan format 4-4-2. Semuanya rapih dan
bersikap sempurna. Kakak-kakak panitia dengan warna pita berbeda-beda mulail
berhamburan dari arah gerbang kantin yg terhubung langsung dengan lapangan
basket.
Dengan
penuh ceria mereka keluar dan berbaris lurus 10 meter di depan gue. Dengan
cepat mata gue langsung menangkap dan mengkalkulasi seberapa banyak panitia
cantik yg bakal menjadi penghibur gue selama masa Orientasi Siswa ini.
Dan
nggak luput juga gue melihat kakak ngondek dengan pita oren itu. Ntah kenapa
melihat doi, hati gue jadi berbunga-bunga. Rasa-rasanya deh pengen nyubit
pipinya. Pake tang.
Setelah
para panitia unyu ini cukup berbaris rapih, muncullah seorang bapak-bapak
lengkap dengan atribut kumis hitamnya menjuntai di bawah hidung. Gue penasaran,
itu kumis atau akar gigi? panjang amat.
Bapak
yg mengenakan baju khas PNS ini berjalan menuju mimbar kecil yg telah
disediakan oleh panitia tepat di sebelah tiang bendera. Beliau berdiri gagah
menatap kita semua. Sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di mic dengan dalil
mengecek apakah mic sudah terhubung dengan pelantang suara atau belum, akhirnya
Bapak ini angkat bicara.
.
"Selamat
datang Siswa dan siswi baru SMA NEGERI XXXX Kota Bandung!!"Katanya dengan
lantang.
Secara
serentak, seluruh panitia, para murid di dalam kelas yg menghadap kearah lapang
basket, dan seluruh murid yg menonton di lapangan mulai bertepuk tangan dengan
ramai. Inilah yg gue suka dari SMA gue ini, solidaritasnya kuat. Ketika nama
SMA ini diucapkan dengan lantang, secara serentak seluruh murid dan penghuni
SMA ini bertepuk tangan penuh gembira.
Melihat
hal ini, tanpa tersadar muncul senyum kecil di mulut gue. Ada rasa haru dan
bangga karena gue bisa menjejakkan kaki di sini. Apakah rasa ini yg kakak gue rasakan
waktu dia dulu berdiri di tempat gue sekarang ini ya? Bersamaan dengan tepukan
tangan yg sangat meriah ini, gue bertekad, bahwa ketika gue sudah menjadi
‘seseorang’ di masa depan nanti, SMA ini adalah tempat yg paling pertama akan
gue perkenalkan sebagai tempat lahirnya seorang Dimas pada hari itu.
.
"Selamat
hadir dan resmi menjadi siswa-siswi terbaik. Tak bisa Bapak pungkiri, mungkin
sekolah ini menjadi sekolah pilihan kedua dari beberapa orang di antara kalian.
Tapi itu tak apa, Bapak hanya berpesan jadikan sekolah ini satu-satunya tempat
di mana kalian kelak akan bercerita dengan bangga ketika sudah sukses di masa
depan!" Ucap
Bapak berkumis lebat.
Seketika
itu juga kembali seluruh penghuni SMA beserta para murid baru bertepuk tangan
dan bersaut-sauttan. Gue pun ikut turut andil dalam hal ini, gue mulai
memasukan jari ke dalam bibir dan membuat siulan keras. Orang yg bernama
Nurhadi di belakang gue ini jingkrak-jingkrak, makin mirip sama gorila.
Kakak-kakak panitia mulai bertepuk tangan sembari menyalakan convetti.
Kakak-kakak senior di dalam kelas mulai memukul-mukul meja dengan penggaris.
Bahkan gue melihat ada yg mengacung-acungkan kursi kayu di balik jendela.
Gue
merasa sedang ada di kebun binatang.
.
"Di
depan kalian ini, adalah kakak-kakan senior kalian yg akan membimbing kalian
untuk mengetahui seluk beluk sekolah ini selama beberapa hari ke depan.
Sambutlah mereka, sebagaimana mereka menyambut kalian di sekolah tercinta kita.
Maka sebelum Bapak menutup kalimat pertemuan pertama kita hari ini, Bapak ingin
kembali mengucapkan selamat datang kepada kalian para murid baru. Selamat
datang, warga baru SMA Negeri XXXXXXX Kota Bandung"
Kembali
sekali lagi gue mendengarkan gegap-gempita hampir di seluruh penjuru lapangan
basket, menyambut dan mengiringi turunnya Bapak— yg ternyata gue baru sadar
bahwa beliau ini kepala sekolah— dari mimbar dan pergi sembari melambaikan
tangan.
Anak-anak
baru pun kembali riuh. Anak SMP yg badannya mirip anak kuliahan yg berdiri di
belakang gue ini tidak henti-hentinya menepuk-nepuk pundak gue. Gila, sakit
amat tepukannya. Emang dasar keturunan gorila. Sedangkan cewek manis di sebelah
gue cuma tersenyum sambil tepuk tangan.
Amboi…
sunggu pemandangan Surga dan Neraka jika dibandingkan dengan mahluk astral di
belakang gue. Ini cewek cocok kalau di sebut dengan panggilan NUR alias cahaya.
Sedangkan cowok gue ini nggak cocok disebut cahaya, cocoknya disebut cahludih.
.
====
.
Acara
kembali dilaksanakan dengan tertib.
Setelah mimbar kosong karena ditinggalkan kepala sekolah, kini ada seorang
kakak senior yg berjalan dan menaiki mimbar kayu yg sederhana itu. Dia memegang
mic dengan gagah, dan mulai berbicara.
"Selamat
pagi anak SMA baru!!" ucapnya lantang.
"PAGI
KAK!!!" Serentak
seluruh anak baru mengucapkan hal yg sama.
"Perkenalkan,
nama saya Dodi. Saya dari kelas 3 Ipa 1. Dan saya adalah ketua OSIS sekaligus
ketua untuk Masa Orientasi Siswa angakatan tahun ini. Sebelum kita melanjutkan
jalannya acara hari pertama penerimaan siswa baru, saya akan memperkenalkan
kakak-kakak unyu nan manis ini yg ada di depan kalian."
Kakak
senior yg bernama Dodi ini turun dari mimbar kemudian menghampiri kakak-kakak
panitia lain yg sudah berbaris satu-satu secara garis lurus ini. Sembari menyodorkan
mic, kak Dodi mempersilahkan teman-temannya berkenalan satu-persatu.
Gue
nggak terlalu ingat siapa saja panitia yg ada pada hari itu, tapi yg masih gue
inget sampe sekarang adalah nama-nama panitia cewek yg emang cakepnya luar
biasa. Ini nih yg gue suka dari ospek, ospek itu identik dengan kakak cowok
ganteng dan kakak cewek cantik. Karena gue tau, sebelum ospek ini dilaksanakan,
pasti para anggota OSIS mengadakan audisi untuk mencari panitia. Dan yg gue
tau, syarat utama untuk menjadi panitia itu haruslah MENARIK!!
.
Akhirnya
setelah kak Dodi memperkenalkan secara satu persatu, dia kembali berjalan ke
atas mimbar dan kembali membuka acara.
"Untuk
membagi kalian ke dalam kelompok, maka kakak-kakak panitia di depan saya ini
akan memberikan kalian sebuah kotak berisi pita berwarna. Setelah menarik
undian itu, kalian harus langsung berkumpul dengan kakak panitia yg mengenakan
pita berwarna sama. Mengerti?!"
"MENGERTI
KAK!"
"Oke,
silahkan kakak-kakak panitia.."
Tidak
perlu waktu lama, tragedi rusuh dan rebutan pita pun terjadi. Gue udah kaya
lagi nonton konser Metallica. Orang-orang mulai rusuh sambil
seruduk-seruduk nggak tau aturan. Gue pun mengalami hal yg sama. Melihat
kejadian kaya gini sontak gue langsung mencari cewek cantik tembem yg sempat
berdiri di sebelah gue itu.
Dan
ternyata dugaan gue benar, dia terhimpit sembari menutupi dadanya. Gue yg
melihat hal ini langsung menghampirinya. Nggak segan-segan gue menarik kerah
anak-anak SMP nggak tau diri ini yg ada di sekitar dia. Ketika sudah sampai di
depannya, gue peggang bahunya.
"Kamu
gakpapa kan?" jawab
gue so-so pasang muka cool kaya kulkas.
Melihat
hal ini, dia hanya diam saja menatap gue. Dan gue pun nggak terlalu bisa fokus
melihat kearah pipi kenyalnya itu. Karena mau tidak mau gue harus fokus menahan
dorongan orang-orang yg lagi rusuh kaya lagi antri sembako.
Sumpah,
gue nggak habis pikir kenapa panitia cuma menyediakan satu buah kotak undian
saja. Apa mereka nggak tau bakal terjadi hal seperti ini? Tapi gakpapa deh,
dengan ini gue jadi bisa pegang-pegang neng cantik nan tembem ini. Dan gue rasa
dia pun nggak masalah gue perlakukan seperti ini, melihat keadaan kita yg
memang tidak memungkinkan untuk berdiri secara tenang.
Lagi
fokus menahan gempuran layaknya Beyblade, gue melihat kotak undian yg sedang
diperebutkan itu mampir di dekat gue. Gue mencoba meraihnya tapi tetap tidak
berhasil, setiap mau meraihnya, tangan gue selalu terhimpit oleh anak-anak yg
lain. Gue kesakitan mencoba menarik tangan gue yg tertekuk karena banyaknya
orang di sebelah gue.
Ntah
ada angin apa, kemudian mendadak gue mendengar secercah harapan dari Tuhan.
"OI
MINGGIR OI!! JANGAN RUSUH SETAN!!"
Gila,
Tuhan nggak mungkin ngeluarin kalimat seperti ini. Gue mencoba untuk bisa
melihat darimana asal bunyi suara itu.
Dan
nggak disangka-sangka. Ternyata itu NURHADI!!
Ya!! Nurhadi yg berbadan tinggi, besar, dan hitam layaknya genderuwo ini dengan
gagah menarik kerah semua anak yg menghimpit tangan gue.
Bagi tubuhnya yg super besar dan tinggi itu, nggak sulit bagi dirinya untuk
menghempaskan anak-anak yg ada di sekitarnya.
Sontak
semua murid disekitarnya menjadi tenang setelah mendengar suara dan tarikan
tangannya.
"ULAH
RARUSUH ANJING!! Batur aing sia dedet jiga kieu, beul!" Jawabnya
dengan logat khas orang sunda kasar.
Semuanya
menjadi hening. Anak-anak yg tadi rusuh mendadak seperti anak kucing baru
lahir. Melihat hal ini, pandangan gue terhadap Nurhadi menjadi berbalik 180
derajat. Gue sekarang melihat dia selayaknya pangeran tampan dari negeri orang
hitam. Mendadak gue seperti melihat cahaya. Dan dengan ini gue semakin yakin
bahwa nama NUR di depan namanya itu ternyata bukanlah sebuah hiasan belaka..
gue
kagum..
Tepuk tangan…
.
===
.
Setelah
keadaan cukup hening, Nurhadi merebut kotak yg sempat menjadi rebutan itu dan
menyodorkannya kearah gue.
"Ambil
bro" ucapnya
"Anjir,
thanks banget bro! lo pahlawan gue!" jawab gue gembira
"Hahaha
santai"
Setelah
menepuk bahunya, gue kemudian memasukan tangan gue ke dalam kotak berisi pita
berwarna itu. Gue genggam pita yg ada di dalamnya, dan gue tarik tangan gue
tanpa mau membuka genggaman pita itu.
"Warna
apa?"
Mendadak
cewek yg tadi sempat gue pegangin pundaknya ini bertanya kearah gue. Gue kaget,
tumben nih anak jadi baik.
"Kamu
ambil dulu gih, setelah itu buka bareng. Siapa tau warnanya sama"Jawab gue sambil
menyodorkan kotak undian tersebut.
Dia
pun nurut tanpa menolak dan memasukan tangannya. Dia genggam pita tersebut lalu
menariknya tanpa mau membuka genggaman tangannya.
"Nah,
kita buka sama-sama ya."
"iya"
"Eh
bentar. Oi Di, sini lu juga. Bareng-bareng, siapa tau kita sekelompok" Gue
memanggil Nurhadi.
"Oke
deh, kebetulan gue juga belum ngambil. Pas udah gue ambil, kita buka
bareng-bareng ya" Ucap Nurhadi sembari memasukkan tangannya ke
dalam kotak.
Setelah
yakin mendapatkan pita. Kemudian kita berkumpul bertiga mengacungkan tangan
kanan kearah depan.
"Oke,
kita buka ya.."
"Sip"
"1…
2… 3"
Dengan
serentak kita bertiga membuka genggaman kita masing-masing.
Gue
mendapatkan pita berwarna oren.
Nurhadi mendapatkan pita berwarna merah.
Cewek tembem mendapatkan pita berwarna oren.
.
"Yaaaah
kita gak sekelompok bro.. hahaha" ucap Nurhadi.
"yah
sial banget, sorry ya Di" Jawab gue
"Gakpapa
kok bro santai aja, yaudah gue caw cari kelompok gue dulu yak"
"Oke-oke.
Btw thanks ya Di udah nolongin gue tadi"
"Santai
bro.." Jawabnya
seraya pergi meninggalkan kita berdua.
Gue
heran, udah berapa banyak kata-kata "santai bro" yg
dia ucapkan dari semenjak pertama kali ketemu gue tadi ya. Apa kaga ada kosa
kata yg lain apa?
"Hei,
kita sekelompok. Ayo cari kakak panitianya. Tapi tetep jangan deket-deket aku
ya"
Mendadak
lamunan gue terbuyar karena ucapannya. Buset, kenapa dia jadi jutek lagi sama
gue?! ini gue salah apa sih astagaaa… Dan dengan enaknya dia pergi begitu aja
tanpa nungguin gue. Bener-bener deh, cewek cantik mah bebas mau ngapain aja
ya..
Gue
mengikutinya dari belakang, mencoba ikut mencari kakak panitia yg menggunakan
pita oren. Dan kalau gue nggak salah inget, kakak yg menggunakan pita oren
adalah kakak panitia favorite gue. Si kakak kemayu.
Dan
ya! Tebakan gue tepat.
Kakak pembimbing kelompok gue adalah kakak cowok imut nan kemayu itu. Melihat
hal ini gue bahagia setengah mati. Cita-cita gue tercapai, walaupun nggak
berteman, setidaknya gue punya kenalan cowok ngondek. Stabilitas pertemanan gue
dengan cewek di masa depan bakal terjamin nih. Mantap!
Tidak
butuh waktu lama buat gue dan cewek tembem jutek ini untuk berkenalan dengan
kakak panitia tersebut. Kita akrab dalam hitungan menit. Kita disuruh menunggu
teman-teman yg lain yg mendapatkan pita berwarna oren juga.
Setelah
semua terkumpul menjadi satu. Maka kini giliran kakak Dodi selaku ketua Osis
kembali berbicara.
.
"Oke,
karena semuanya telah berkelompok. Sekarang kalian kembali ke barisan kalian
seperti awal tadi yaa." pintanya.
Kami
pun berbaris kembali.
"Oke,
sekarang izinkan saya memperkenalkan kakak-kakak panitia yg lain. Oke para
panitia pembimbing dan panitia yg lain, harap beridiri di belakang saya."
Para
pantia kini berdiri di belakang kakak ketua osis.
"Seperti
yg saya ucapkan tadi, izinkan saya memperkenalkan kakak-kakak panitia keamanan.
Silahkan.."
.
BRAK!!
Mendadak
pintu kantin dibuka dengan kasar. Dari sana keluar secara berurut para
kakak-kakak keamanan lengkap dengan pita hitam di tangan kiri mereka.
Wajahnya
seram. Aura kegelapan mendadak menyelimuti seluruh kawasan lapangan basket.
Anak-anak baru mendadak terhening semua.
Ada
yg wajahnya minta di pukul. Ada yg wajahnya minta di tonjok. Ada yg wajahnya
kampungan. Ada yg wajahnya jutek abis. Ada yg pake kerudung tapi wajahnya kaya
pemeran istri Haji Muhidin. Dan masih banyak lagi.
Mereka
kini berjajar berbaris memanjang rapih di depan kakak osis. Dan yg terakhir,
muncullah seorang kakak laki-laki dari kantin dengan wajah paling
menjengkelkan. Dia berjalan dengan tangan masuk di dalam saku. Melihat kearah
kita satu persatu.
Dia
tidak ikut baris seperti kakak-kakak keamanan yg lain. Yg ini berani tampil
beda. Dia berjalan menatap satu-persatu mata anak-anak murid baru yg berdiri di
barisan paling depan.
Sontak
banyak yg menggigil karena harus berhadapan dengan kakak yg seramnya minta
ampun ini. Nggak terkecuali gue. Gue pun mendadak keringet dingin ketika dia
melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Setelah
selesai berjalan dengan brengseknya. Kakak ini mendatangi kakak ketua osis. Dia
berdiri meminta mic yg sedang di pegang kakak ketua osis.
Dia
melihat kearah kita semua.
.
"Selamat
pagi!" ucapnya
keras.
"SELAMAT
PAGI KAK!"
"KURANG
KERAS!! SELAMAT PAGI!!!"
"SELAMAT
PAGI KAAAAK!!!!"
"Perkenalkan,
kami dari divisi tata tertib atau tatib. Kami yg akan mengajarkan kedisiplinan
kepada kalian semua. Sebelum itu saya harap kalian mengenal kami semua. Saya
akan memperkenalkan satu persatu anggota saya"
Kemudian
para panitia kemanan memperkenalkan diri mereka satu-persatu. Setelah itu, mic
pun kembali ke pegangan kakak brengsek yg satu itu.
"Saya
sendiri adalah Roni! Kelas 3 IPS 1. Saya ketua keamanan Di sini. Sebelum acara
dimulai, kami akan melakukan sidak kedisiplinan kepada kalian terlebih dahulu.
Para kakak keamanan, saya persilahkan" Ucapnya tegas.
.
Setelah
mendengar perintah seperti itu, kini semua panitia keamanan berpencar memasuki
setiap barisan dari para anak baru. Melihat secara utuh satu persatu. Mereka
mencari kesalahan yg kita perbuat di hari pertama.
Tapi
pandangan gue nggak berhenti di situ saja, gue melihat kakak Roni ini memanggil
3 anak keamanan yg wajahnya serem abis untuk berkumpul di dekatnya.
Sambil
berbicara, kak Roni ini menunjuk kearah gue. Sontak ketiga anak kemanan itu pun
melihat kearah gue. Sambil melihat kearah gue, mereka mendengarkan apa yg kak
Roni bicarakan.
Anjrit!
Gue salah apa ini?!
Please jangan gue, jangan gue!!
Gue
menggigil karena gugup. Berharap yg kak Roni tunjuk itu bukanlah gue. Melainkan
anak songong di sebelah kanan gue ini. Tapi mendadak setelah ka Roni selesai
berbicara, 3 kakak keamanan ini mendatangi gue dengan langkah kaki yg cepat.
ANJRIT!!
MATI GUE!!!.
.
"Kan,
udah aku bilang kan, kamu jangan deket-deket aku" bisik
cewek tembem di sebelah kiri gue itu.
HAH?!
EMANG GUE SALAH APA SIH?!?!
.
.
.
.
Bersambung